Keresahan melanda komunitas petani hidroponik di kawasan urban Jakarta Selatan. Gangguan pasokan listrik yang terjadi secara berulang dalam beberapa pekan terakhir menjadi momok menakutkan, mengancam keberhasilan panen sayuran dan buah-buahan yang mereka budidayakan secara modern. Bagi para petani yang mengandalkan sistem hidroponik, aliran listrik yang stabil adalah nyawa dari seluruh operasional pertanian mereka.
“Kami sangat khawatir dengan pemadaman listrik yang sering terjadi,” ungkap Ibu Rina, seorang petani hidroponik yang memiliki kebun di atap rumahnya di kawasan Kebayoran Baru, pada hari Jumat, 9 Mei 2025. “Sistem hidroponik kami sepenuhnya bergantung pada pompa listrik untuk mengalirkan nutrisi dan oksigen ke akar tanaman. Jika listrik padam terlalu lama, tanaman bisa stres, layu, bahkan mati.”
Menurut penuturan Ibu Rina, pemadaman listrik yang terjadi pada Kamis malam, 8 Mei 2025, berlangsung selama hampir lima jam. Akibatnya, sirkulasi nutrisi terhenti dan kadar oksigen dalam larutan menurun drastis. Beberapa jenis sayuran daun seperti selada dan pakcoy mulai menunjukkan gejala layu keesokan harinya.
Menanggapi keluhan para petani hidroponik, Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta Selatan, Bapak Ir. Slamet Widodo, M.Si., saat dihubungi pada Sabtu, 10 Mei 2025, menyatakan keprihatinannya. Pihaknya menyadari betapa krusialnya pasokan listrik bagi keberlangsungan pertanian hidroponik di perkotaan.
“Kami telah menerima laporan dari beberapa kelompok tani hidroponik terkait dampak pemadaman listrik ini. Kami akan segera berkoordinasi dengan pihak PLN untuk mencari solusi terbaik dan meminimalisir potensi gagal panen yang dialami para petani,” jelas Bapak Slamet. Beberapa langkah yang mungkin dipertimbangkan adalah sosialisasi penggunaan sumber energi alternatif atau penyediaan genset sebagai cadangan.
Ibu Rina dan petani hidroponik lainnya berharap agar pihak terkait dapat segera mengambil tindakan nyata. Investasi yang telah mereka tanamkan dalam membangun sistem hidroponik yang canggih bisa sia-sia jika masalah pemadaman listrik terus berlanjut dan menyebabkan gagal panen. Mereka juga menekankan pentingnya komunikasi yang lebih baik dari pihak PLN terkait jadwal pemeliharaan atau potensi gangguan listrik agar para petani dapat melakukan langkah antisipasi.
Petugas dari Polsek Kebayoran Baru, AIPTU Agus, yang melakukan patroli rutin di wilayah tersebut pada Minggu pagi, 11 Mei 2025, turut mendengarkan keluhan para petani hidroponik. Ia berjanji akan menyampaikan permasalahan ini kepada pimpinan untuk dikoordinasikan dengan instansi terkait.
Ancaman gagal panen akibat faktor non-teknis seperti pemadaman listrik menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan pertanian hidroponik di perkotaan. Diperlukan sinergi antara petani, pemerintah daerah, dan penyedia layanan publik untuk memastikan keberlanjutan sistem pertanian modern ini dan menjaga ketahanan pangan di wilayah perkotaan.
