Di tengah keanekaragaman buah tropis Indonesia, terselip satu buah kecil yang mungkin tak banyak dikenal generasi kini: asam keranji. Buah dengan nama latin Dialium indum ini dulunya cukup populer sebagai camilan, terutama di kalangan anak-anak. Bentuknya bulat pipih seukuran anggur dengan kulit berwarna cokelat kehitaman yang keras namun rapuh, menyimpan keunikan rasa dan manfaat yang sayang untuk dilewatkan.
Daging buah asam keranji berwarna oranye kecokelatan dengan tekstur lembut seperti beludru, membuatnya mendapat julukan “velvet tamarind” dalam bahasa Inggris. Rasanya merupakan perpaduan menarik antara asam dan manis, dengan rasa manis yang lebih dominan dibandingkan asam jawa. Cara menikmatinya pun cukup unik, yakni dengan mengisap daging buahnya hingga tersisa biji yang kemudian dibuang, layaknya menikmati permen alami.
Pohon asam keranji sendiri merupakan pohon tropis yang tumbuh subur di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Sayangnya, pohon ini cenderung tumbuh liar dan jarang dibudidayakan secara massal, mungkin karena masa panennya yang cukup lama dan tingginya pohon yang bisa mencapai 35 meter, sehingga menyulitkan proses pemetikan.
Meskipun kurang populer, asam keranji menyimpan berbagai manfaat kesehatan. Buah ini kaya akan vitamin C yang baik untuk menjaga daya tahan tubuh, mencegah sariawan, dan masalah gusi. Kandungan seratnya bermanfaat untuk menjaga kesehatan pencernaan. Selain itu, asam keranji juga mengandung zat besi yang dapat membantu mencegah anemia, serta kalium yang berperan dalam menjaga kesehatan jantung dan mencegah hipertensi. Beberapa penelitian juga menunjukkan potensi asam keranji dalam membantu mengontrol kadar gula darah dan kolesterol.
Di beberapa daerah, seperti Thailand, asam keranji bahkan diolah menjadi permen dan sirup yang menyegarkan. Rasanya yang unik menjadikannya alternatif camilan sehat yang menarik. Sayangnya, keberadaan buah ini semakin sulit ditemukan, terutama di perkotaan.
Mengenal kembali asam keranji bukan hanya tentang bernostalgia dengan camilan masa kecil, tetapi juga tentang menghargai keanekaragaman hayati Indonesia dan memanfaatkan potensi buah lokal yang kaya manfaat. Semoga dengan semakin dikenalnya buah ini, upaya pelestarian pohon asam keranji juga akan meningkat, sehingga generasi mendatang tetap dapat menikmati keunikan rasa dan manfaatnya.
