Musim Kemarau Menyayat Hati! Petani Malang Jerit Kesusahan Kekeringan Lahan

Para petani kesusahan di berbagai wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, kini tengah menghadapi masa-masa sulit akibat dampak musim kemarau yang berkepanjangan. Kekeringan lahan pertanian menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup mereka, menyebabkan gagal panen dan kerugian ekonomi yang signifikan. Jeritan petani kesusahan ini semakin memilukan seiring dengan menipisnya sumber air irigasi dan meningkatnya biaya operasional untuk mencari alternatif pengairan. Kondisi petani kesusahan ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah dan pihak terkait untuk segera memberikan solusi dan bantuan.

Sejak beberapa pekan terakhir, curah hujan di wilayah Malang sangat minim, mengakibatkan sumber-sumber air seperti sungai dan sumur mengering. Akibatnya, lahan pertanian yang mengandalkan air irigasi alami menjadi kering kerontang. Para petani kesusahan tidak dapat lagi menanam padi atau palawija seperti biasanya. Bahkan, tanaman yang sudah ditanam pun terancam mati kekeringan. Kondisi ini memaksa sebagian petani untuk menunda masa tanam, sementara yang lainnya terpaksa merugi karena gagal panen.

Menurut Bapak Sutrisno (52 tahun), seorang petani di Desa Tegalrejo, Kecamatan Kepanjen, pada Rabu, 16 April 2025, para petani kesusahan di wilayahnya sangat khawatir dengan kondisi ini. “Sudah hampir satu bulan tidak ada hujan. Sumber air irigasi sudah kering. Kami tidak tahu lagi bagaimana caranya mengairi sawah kami. Kalau terus begini, kami pasti gagal panen dan tidak punya penghasilan,” keluhnya dengan nada putus asa. Biaya untuk menyedot air dari sumur-sumur yang masih tersisa juga semakin mahal, menambah beban para petani.

Menanggapi keluhan para petani kesusahan, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Malang, Ir. Bambang Sudarmanto, M.Si., dalam konferensi pers di kantornya pada Rabu siang, 16 April 2025, menyatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan mengenai dampak kekeringan yang dialami petani. “Kami sangat prihatin dengan kondisi para petani. Kami sedang berupaya untuk mencari solusi jangka pendek dan jangka panjang, seperti penyaluran bantuan air bersih, pembangunan sumur bor, dan sosialisasi teknik pertanian hemat air. Kami berharap para petani tetap bersabar dan kami akan terus berupaya membantu semaksimal mungkin,” jelas Ir. Bambang Sudarmanto. Pemerintah daerah juga berencana untuk mengajukan bantuan ke pemerintah provinsi dan pusat untuk mengatasi masalah kekeringan yang dialami para petani kesusahan di Malang ini. Diharapkan, uluran tangan dari berbagai pihak dapat meringankan beban para petani dan membantu mereka melewati masa sulit ini.