Tragis! Babi Hutan Ngamuk Serang Petani Hingga Tewas di Bone

Kabar duka datang dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, setelah seorang petani menjadi korban serangan babi hutan yang mengamuk. Peristiwa tragis yang terjadi di area perkebunan Dusun Cinnong, Desa Pattiro Bajo, Kecamatan Mare, pada Kamis pagi, 10 April 2025, sekitar pukul 08.00 WITA ini mengakibatkan seorang petani bernama Bapak Ambo Upe (62 tahun) meninggal dunia akibat luka parah yang dideritanya. Insiden babi ngamuk ini sontak membuat warga sekitar resah dan meningkatkan kewaspadaan.

Informasi mengenai serangan babi ngamuk ini pertama kali diterima oleh Polsek Mare dari laporan warga setempat. Petugas kepolisian segera mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan keterangan saksi. Kapolsek Mare, AKP Muhammad Arifuddin, S.H., M.H., saat memberikan keterangan pers di lokasi kejadian, membenarkan adanya serangan babi ngamuk yang menyebabkan seorang petani meninggal dunia.

“Berdasarkan keterangan saksi dan hasil olah TKP, korban saat itu sedang berada di kebunnya untuk melakukan aktivitas pertanian. Tiba-tiba, seekor babi ngamuk berukuran cukup besar muncul dari semak-semak dan langsung menyerang korban secara membabi buta,” ujar AKP Muhammad Arifuddin. Korban diduga tidak sempat melarikan diri dan mengalami luka serius akibat gigitan dan terjangan babi ngamuk tersebut. Warga yang mendengar teriakan korban segera datang membantu, namun sayangnya nyawa korban tidak tertolong.

Tim Inafis Polres Bone juga telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan identifikasi lebih lanjut terhadap jenazah korban. Sementara itu, pihak kepolisian bersama dengan aparat desa dan warga setempat melakukan upaya pencarian terhadap babi ngamuk tersebut untuk mencegah terjadinya serangan serupa terhadap warga lainnya.

Kejadian babi ngamuk ini bukan pertama kalinya terjadi di wilayah tersebut. Dalam beberapa waktu terakhir, warga memang kerap kali mengeluhkan kemunculan babi hutan yang merusak lahan pertanian dan bahkan mendekati permukiman. Diduga, habitat babi hutan yang semakin terdesak akibat alih fungsi lahan menjadi penyebab hewan liar tersebut mencari makan hingga ke area perkebunan dan pemukiman warga.

Pihak kepolisian mengimbau kepada warga untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas di area perkebunan atau hutan. Jika menjumpai babi hutan, warga disarankan untuk tidak mencoba mendekat atau mengganggu hewan tersebut dan segera melaporkannya kepada pihak berwenang, seperti perangkat desa atau petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Pemerintah Kabupaten Bone melalui dinas terkait juga diharapkan dapat segera mengambil langkah-langkah antisipasi untuk mengatasi permasalahan babi ngamuk ini, seperti melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai cara penanganan hewan liar dan berkoordinasi dengan BKSDA untuk mencari solusi yang tepat agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Informasi mengenai penanganan satwa liar dapat diakses melalui website resmi BKSDA Sulawesi Selatan. Tragedi ini menjadi pengingat akan potensi bahaya dari interaksi antara manusia dan satwa liar jika tidak dikelola dengan baik.