Indonesia, dengan iklim tropisnya yang ideal, seharusnya menjadi surga bagi budidaya ulat sutera (Bombyx mori). Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa industri sutera nasional masih berada dalam kondisi kritis, dengan tingkat produksi yang sangat rendah. Akibatnya, industri tekstil dalam negeri, khususnya yang bergerak di segmen sutera, mengalami Ketergantungan Impor yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan benang mentah (raw silk). Ironi ini menunjukkan adanya hambatan struktural yang kompleks.
Salah satu penyebab utama Ketergantungan Impor adalah menyusutnya lahan perkebunan murbei (Morus alba), makanan utama ulat sutera. Lahan yang dulunya digunakan untuk murbei kini banyak dialihfungsikan menjadi komoditas pangan atau perkebunan lain yang dianggap lebih cepat mendatangkan keuntungan. Siklus hidup murbei dan ulat sutera yang membutuhkan perawatan intensif dan lahan yang stabil membuat petani beralih ke pilihan yang lebih pragmatis secara ekonomi, mengakibatkan pasokan bahan baku lokal menurun drastis.
Selain masalah lahan, kendala teknologi dan kurangnya regenerasi petani juga memperparah Ketergantungan Impor. Proses pascapanen sutera, seperti pemintalan benang dari kokon (reeling), membutuhkan teknologi yang presisi dan konsisten untuk menghasilkan benang sutera dengan kualitas standar industri. Banyak unit pemintalan lokal yang masih menggunakan mesin tua, menghasilkan benang dengan kualitas yang tidak seragam. Ini membuat pabrik tekstil besar lebih memilih benang sutera impor yang terjamin mutunya.
Dampak dari Ketergantungan Impor ini terasa langsung pada harga benang sutera di pasar domestik. Harga menjadi tidak stabil dan rentan terhadap fluktuasi mata uang asing, menghambat pertumbuhan industri tekstil sutera tradisional seperti tenun Sengkang dan Toraja. Upaya untuk menghidupkan kembali industri ini memerlukan investasi besar pada riset dan pengembangan, mulai dari bibit unggul murbei hingga modernisasi alat pemintalan benang yang mampu bersaing di kancah global.
Untuk keluar dari krisis dan mengurangi Ketergantungan Impor, diperlukan intervensi serius dari pemerintah. Program revitalisasi lahan murbei, penyediaan bibit ulat sutera unggul, serta bantuan modernisasi mesin pemintalan wajib dilakukan. Hanya dengan membangun kembali ekosistem hulu ke hilir yang kuat dan terintegrasi, Indonesia dapat memanfaatkan potensi iklim tropisnya dan mengembalikan kejayaan industri sutera nasional.
